Sidak Dini Hari SPPG di Cluwak Pati, Plt Bupati Temukan Persoalan IPAL dan Kualitas Menu MBG

Hot News127 Views

PATI – Pemerintah Kabupaten Pati memperketat pengawasan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah tersebut terlihat dari inspeksi mendadak atau sidak yang dilakukan Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati Risma Ardhi Chandra ke sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Cluwak pada Jumat, 25 September 2026 dini hari.

Sidak dimulai sekitar pukul 03.00 WIB. Waktu tersebut bertepatan dengan aktivitas dapur SPPG yang tengah menyiapkan makanan untuk penerima manfaat MBG. Pemeriksaan tidak hanya menyasar bahan makanan, tetapi juga kebersihan dapur, alur pengolahan, fasilitas pendukung, hingga pengelolaan limbah melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Image

Dalam pemeriksaan tersebut, tim menemukan sejumlah catatan yang perlu mendapat perhatian pengelola SPPG. Salah satunya berkaitan dengan proses penyortiran bahan pangan. Selain itu, beberapa fasilitas IPAL dinilai belum berjalan secara optimal.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena kualitas bahan baku dan sanitasi dapur memiliki kaitan langsung dengan keamanan makanan yang kemudian dikonsumsi siswa penerima program MBG.

Sidak Dimulai Dini Hari untuk Memeriksa Proses Produksi MBG

Sidak di wilayah Cluwak berlangsung sejak sekitar pukul 03.00 WIB hingga selepas Subuh. Plt Bupati Pati datang bersama sejumlah pejabat terkait, termasuk jajaran Kementerian Agama dan Dinas Kesehatan Kabupaten Pati.

Beberapa lokasi yang masuk dalam peninjauan antara lain SPPG Ngablak 1, Ngablak 2, Sumur 1, Sumur 2, Ngawen, serta SPPG Ngablak di Dukuh Kramat. Pemilihan waktu dini hari membuat pemeriksaan dapat berlangsung ketika dapur menjalankan aktivitas produksi. Dengan begitu, tim dapat melihat secara langsung bagaimana pengelola menerima bahan, melakukan sortir, menyiapkan makanan, hingga menata makanan sebelum distribusi.

Langkah tersebut penting karena pemeriksaan tidak hanya melihat kondisi bangunan. Petugas juga dapat mengamati pelaksanaan prosedur kerja yang berlangsung di dapur.

Bahan Pangan Menjadi Salah Satu Sorotan

Salah satu temuan yang disampaikan Plt Bupati Pati berkaitan dengan buah jeruk yang memiliki kulit berubah warna menjadi kehitaman.

Menurut Chandra, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian dalam proses penyortiran. Meskipun bagian dalam buah belum tentu rusak, bagian luar yang kotor atau mengalami perubahan kondisi dapat meningkatkan risiko kontaminasi silang apabila bercampur dengan bahan pangan lain.

Selain jeruk, sejumlah laporan media juga menyebut adanya ikan lele berukuran sangat kecil yang masih lolos dalam proses penyortiran. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengawasan bahan baku perlu berlangsung sejak bahan tiba di dapur, bukan hanya ketika makanan sudah selesai dimasak.

Karena itu, Chandra meminta pengelola SPPG dan mitra penyedia memperketat pemeriksaan bahan pangan. Pemilihan pemasok juga perlu mempertimbangkan kualitas dan keamanan bahan, bukan sekadar harga.

Persoalan IPAL Ikut Menjadi Perhatian

Selain bahan pangan, sistem pengolahan limbah menjadi bagian penting dalam sidak. Beberapa SPPG yang diperiksa memiliki catatan mengenai pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL.

Tim menemukan saluran air di sejumlah lokasi yang belum dilengkapi grease trap atau penyaring lemak secara memadai. Padahal, kegiatan dapur menghasilkan sisa minyak dan lemak yang dapat terbawa bersama air buangan.

Image

 

Image

Jika pengelolaan limbah tidak berjalan dengan baik, sisa lemak dapat masuk ke saluran pembuangan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan penyumbatan, bau, maupun gangguan terhadap lingkungan sekitar.

Chandra menegaskan bahwa persoalan IPAL tidak hanya menyangkut fasilitas internal dapur. Pengelola juga perlu memperhitungkan dampaknya terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar SPPG.

Dengan demikian, keberadaan IPAL seharusnya tidak berhenti pada penyediaan fasilitas. Pengelola perlu memastikan seluruh sistem bekerja sesuai fungsi dan kebutuhan operasional dapur.

Penggunaan Air untuk Memasak Juga Dievaluasi

Sidak turut mencatat penggunaan air dalam proses memasak. Dalam laporan ANTARA, Pemkab Pati menyebut adanya penggunaan air untuk memasak yang belum memenuhi standar SNI dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi.

Faktor air memiliki peran penting dalam proses produksi makanan. Sebab, air digunakan dalam berbagai tahapan, mulai dari mencuci bahan, memasak, hingga membersihkan peralatan.

Oleh karena itu, pemeriksaan kualitas air perlu berjalan bersama dengan pengawasan bahan makanan dan kebersihan peralatan. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dalam menjaga keamanan pangan.

SOP SPPG Diminta Berjalan Secara Menyeluruh

Temuan di Cluwak juga memperkuat pentingnya penerapan standar operasional prosedur atau SOP. Pengelola SPPG diminta memperhatikan alur keluar-masuk makanan, area pemorsian, ruang pendinginan, serta pemisahan gudang bahan basah dan bahan kering.

SOP berfungsi sebagai panduan agar setiap tahapan produksi memiliki standar yang jelas. Dengan pelaksanaan yang konsisten, pengelola dapat mengurangi kesalahan saat menerima bahan, mengolah makanan, menyimpan produk, hingga mendistribusikannya.

Sebelumnya, Pemprov Jawa Tengah juga mencatat bahwa evaluasi SPPG di Pati mencakup kapasitas pelayanan, fasilitas dapur, bahan baku, pemasok, sanitasi, dan pengelolaan limbah. Pada pertengahan September 2026, Pemkab Pati menyebut terdapat 172 SPPG, dengan 159 beroperasi, empat disuspend, dan sembilan sementara berhenti beroperasi.

Data tersebut menunjukkan skala pelaksanaan MBG di Pati cukup besar. Karena itu, pengawasan tidak cukup dilakukan sesekali. Pemeriksaan berkala menjadi bagian penting untuk memastikan standar berjalan secara konsisten.

Ada SPPG yang Dinilai Memenuhi Standar

Di tengah sejumlah temuan tersebut, sidak juga menemukan kondisi positif. SPPG di Dukuh Kramat, Desa Ngablak, dinilai memiliki fasilitas yang memenuhi standar kebersihan dan kelayakan operasional.

Penggunaan lantai epoxy serta tata ruang dapur menjadi salah satu aspek yang mendapat apresiasi. Chandra menyebut fasilitas tersebut dapat menjadi rujukan bagi SPPG lain di Kabupaten Pati.

Temuan positif ini menunjukkan bahwa standar operasional dapat diterapkan apabila pengelola memperhatikan fasilitas, tata letak, kebersihan, dan alur kerja dapur.

Dengan demikian, evaluasi tidak hanya berfokus pada kekurangan. Praktik yang sudah berjalan baik juga dapat menjadi contoh untuk meningkatkan kualitas SPPG lainnya.

Baca Juga! Heboh Cacing Air Ditemukan dalam Menu MBG di MAN 1 Pati, Begini Penjelasannya

Dampak Sidak terhadap Pelaksanaan Program MBG di Pati

Sidak dini hari di Cluwak memiliki dampak langsung terhadap pengawasan program MBG. Pemerintah daerah mendapatkan gambaran mengenai kondisi lapangan ketika proses produksi berlangsung.

Bagi pengelola SPPG, temuan tersebut menjadi pengingat bahwa pengawasan bahan baku harus dilakukan sejak awal. Bagi mitra pemasok, kualitas bahan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keamanan makanan.

Sementara itu, bagi masyarakat dan orang tua siswa, pengawasan seperti ini dapat menjadi bagian dari mekanisme kontrol terhadap pelaksanaan program MBG.

Namun, temuan dalam sidak tidak otomatis berarti seluruh makanan MBG di Kabupaten Pati bermasalah. Pemeriksaan dilakukan pada lokasi tertentu dan menemukan persoalan yang perlu diperbaiki. Karena itu, informasi mengenai kondisi SPPG harus tetap disampaikan berdasarkan hasil pemeriksaan dan sumber resmi.

Analisis: Pengawasan Harus Berlanjut dari Dapur hingga Distribusi

Sidak di Cluwak memperlihatkan bahwa keamanan makanan tidak hanya ditentukan oleh menu yang terlihat bergizi. Proses pengadaan bahan, penyortiran, pencucian, pengolahan, pendinginan, pemorsian, hingga distribusi juga menjadi bagian penting.

Jika salah satu tahapan tidak berjalan sesuai SOP, risiko masalah dapat meningkat. Karena itu, pengawasan idealnya dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Pemkab Pati menyatakan akan melanjutkan pengawasan terhadap SPPG secara berkala. Laporan masyarakat mengenai kualitas makanan juga akan ditindaklanjuti untuk mengetahui sumber persoalan dan menentukan langkah penanganan.

Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan Pati Luky Pratugas Narimo menyampaikan bahwa pemeriksaan laboratorium terkait dugaan kejadian keracunan MBG di Kecamatan Gembong masih berlangsung. Pemeriksaan mikrobiologi telah selesai, sementara parameter kimia masih dalam proses sebelum hasilnya menjadi bahan bagi Satgas MBG.

Kesimpulan

Sidak SPPG di Kecamatan Cluwak pada Jumat dini hari, 25 September 2026, menjadi bagian dari upaya Pemkab Pati memperketat pengawasan Program Makan Bergizi Gratis.

Pemeriksaan menemukan sejumlah catatan, mulai dari proses sortir bahan pangan, kondisi jeruk yang berubah warna, ikan lele yang lolos penyortiran, pengelolaan IPAL yang belum optimal, hingga persoalan standar air untuk memasak.

Namun, terdapat pula SPPG yang dinilai telah memenuhi standar kebersihan dan kelayakan. Ke depan, konsistensi penerapan SOP, pemeriksaan bahan baku, pengelolaan limbah, serta pengawasan berkala akan menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas pelaksanaan MBG di Kabupaten Pati.

Portal Harian

Portal Harian merupakan tim redaksi PortalHarian.com yang menyajikan informasi aktual, faktual, dan informatif seputar Indonesia dan dunia.

Setiap artikel disusun dengan mengutamakan ketepatan informasi, keberimbangan, serta kemudahan pembaca dalam memahami suatu peristiwa. Tim Portal Harian membahas berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, teknologi, bisnis, otomotif, olahraga, hingga informasi dan perkembangan terkini yang relevan bagi masyarakat.

Dalam menyusun pemberitaan, Portal Harian berupaya menggunakan sumber informasi yang dapat dipertanggungjawabkan serta melakukan pengecekan terhadap informasi sebelum dipublikasikan.

PortalHarian.com — Informasi Aktual, Fakta Terpercaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment