PATI – Kondisi Waduk Gembong di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, semakin mengkhawatirkan di tengah musim kemarau 2026. Volume air waduk terus menyusut sehingga persediaan untuk kebutuhan irigasi pertanian diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar dua pekan jika permintaan petani tetap berjalan.
Waduk yang juga dikenal sebagai Waduk Seloromo itu menjadi salah satu sumber air penting bagi lahan pertanian di sejumlah wilayah Kabupaten Pati. Karena itu, penyusutan volume air tidak hanya menjadi persoalan pengelolaan waduk, tetapi juga berpotensi memengaruhi aktivitas pertanian masyarakat.
Berdasarkan informasi pengelola, volume air yang tersisa berada di kisaran 2,4 juta meter kubik. Sementara itu, kapasitas tampungan ketika penuh mencapai sekitar 9,5 juta meter kubik. Perbandingan tersebut menunjukkan penurunan volume yang sangat signifikan selama musim kemarau.
Volume Air Waduk Gembong Turun Drastis
Penyusutan air terlihat jelas di kawasan Waduk Gembong yang berada di Desa Gembong dan Desa Pohgading, Kecamatan Gembong. Sejumlah bagian dasar waduk mulai terlihat seiring turunnya permukaan air.
Pengelola mencatat kondisi tahun ini lebih berat dibandingkan musim kemarau 2025. Pada tahun sebelumnya, air yang masih dapat dikeluarkan disebut berada di kisaran 45 persen. Sementara pada 2026, persediaan terus turun hingga mendekati batas yang harus dipertahankan untuk keamanan bendungan.
Operator Waduk Gembong, Susanto, memperkirakan persediaan air yang tersisa hanya dapat memenuhi kebutuhan irigasi sekitar dua pekan apabila permintaan petani terus berlangsung.
Artinya, waktu yang tersedia bagi pengelola untuk mendistribusikan air semakin terbatas. Kondisi tersebut membuat pengaturan debit menjadi langkah penting agar cadangan tidak habis sebelum musim hujan kembali meningkatkan pasokan.
Mengapa Air Bisa Menyusut hingga 80 Persen?
Musim kemarau panjang menjadi salah satu faktor utama penyusutan volume Waduk Gembong. Ketika hujan berkurang, pasokan air yang masuk ke waduk ikut menurun. Pada saat yang sama, kebutuhan irigasi tetap berjalan.
Selain distribusi untuk pertanian, pengelola juga harus memperhitungkan penguapan dan penyerapan air. Dua faktor tersebut membuat volume air dapat terus berkurang meskipun pengelola sudah melakukan pembatasan distribusi.
Laporan lapangan pada awal September 2026 juga menunjukkan bahwa kondisi Waduk Gembong menjadi salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.
Air Waduk Gembong Menyuplai Lima Kecamatan
Waduk Gembong memiliki peran penting bagi sektor pertanian Pati. Air dari waduk tersebut digunakan untuk mengairi lahan pertanian di puluhan desa yang tersebar pada lima kecamatan.
Wilayah yang mendapatkan pasokan antara lain Gembong, Margorejo, Pati, Wedarijaksa, dan Tlogowungu. Dari sejumlah wilayah tersebut, permintaan air terbesar tercatat berasal dari Kecamatan Margorejo.
Sebelumnya, pengelola mengeluarkan air dengan debit sekitar 1.200 liter per detik untuk memenuhi kebutuhan petani. Namun, seiring semakin terbatasnya persediaan, pengelola mulai melakukan pengaturan agar cadangan tidak terkuras terlalu cepat.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengelola harus mencari keseimbangan antara kebutuhan air petani dan kondisi waduk.
Petani Menghadapi Risiko Kekurangan Air
Bagi petani, ketersediaan air menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan musim tanam. Ketika debit irigasi turun, petani harus menyesuaikan jadwal tanam dan penggunaan air.
Pengelola bersama pihak terkait juga melakukan penyuluhan kepada petani agar tidak terburu-buru menanam padi ketika pasokan air semakin terbatas. Penghematan air menjadi salah satu strategi untuk memperpanjang masa distribusi.
Kondisi tersebut penting diperhatikan karena penanaman secara bersamaan dapat meningkatkan kebutuhan air dalam waktu yang sama. Jika persediaan waduk terus turun, kebutuhan yang meningkat justru dapat mempercepat habisnya cadangan yang tersedia.
Kronologi Penyusutan Air Waduk Gembong
Awal Musim Kemarau
Memasuki musim kemarau 2026, pasokan air Waduk Gembong mulai mengalami penurunan. Namun, pengelola masih dapat menyalurkan air untuk mendukung kebutuhan pertanian.
Volume Air Terus Menurun
Seiring berlangsungnya kemarau, permukaan air semakin turun. Pada awal September, volume air berada di sekitar 2,4 juta meter kubik dari kapasitas penuh sekitar 9,5 juta meter kubik.
Distribusi Mulai Dibatasi
Pengelola kemudian melakukan pengaturan debit air. Langkah ini bertujuan memperpanjang ketersediaan air sekaligus mempertahankan sebagian cadangan untuk kebutuhan keamanan bendungan.
Cadangan Diprediksi Bertahan Dua Pekan
Dengan volume yang tersisa dan permintaan irigasi yang masih ada, pengelola memperkirakan air untuk kebutuhan pertanian hanya mampu bertahan sekitar dua pekan.
Perkiraan tersebut bukan berarti seluruh air waduk akan benar-benar habis dalam waktu dua pekan. Ada sebagian volume yang harus tetap dipertahankan dan tidak dapat digunakan untuk irigasi.
Ada Batas Air yang Tidak Boleh Dikeluarkan
Salah satu fakta penting dalam kondisi Waduk Gembong saat ini adalah pengelola tidak dapat mengeluarkan seluruh air yang tersisa.
Sekitar 500 ribu meter kubik air harus dipertahankan sebagai batas pembasahan. Cadangan tersebut berfungsi menjaga kondisi tubuh bendungan dan bangunan intake agar tetap aman.
Pembasahan diperlukan untuk mengurangi risiko munculnya retakan maupun rembesan akibat kondisi bangunan yang terlalu kering. Karena itu, ketika volume air mendekati batas tersebut, pengelola tidak bisa lagi memprioritaskan seluruh air untuk irigasi.
Mengapa Cadangan 500 Ribu Meter Kubik Penting?
Secara sederhana, volume air yang terlihat di waduk tidak seluruhnya dapat dianggap sebagai air yang siap digunakan petani.
Jika volume mendekati batas minimum pembasahan, pengelola harus menghentikan pengeluaran air untuk irigasi. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan infrastruktur waduk.
Dengan demikian, prediksi “air cukup dua pekan” harus dipahami sebagai perkiraan kemampuan pasokan untuk kebutuhan irigasi, bukan berarti seluruh waduk akan kosong setelah dua pekan.
Baca Juga! Pati Darurat Air Bersih? Puluhan Desa Mulai Terdampak Kekeringan, Ini Respons DPRD
Dampak terhadap Pertanian Pati
Penyusutan Waduk Gembong berpotensi memberikan dampak langsung terhadap petani di wilayah yang bergantung pada pasokan air tersebut.
Pertama, petani harus mengatur kembali jadwal tanam. Kedua, kebutuhan air yang tinggi dapat meningkatkan persaingan distribusi antarwilayah. Ketiga, jika pasokan berhenti ketika tanaman masih membutuhkan air, risiko penurunan produktivitas dapat meningkat.
Selain itu, petani juga perlu mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum memulai penanaman. Strategi hemat air menjadi semakin penting selama persediaan waduk berada pada level rendah.
Analisis: Pengelolaan Air Menjadi Kunci
Situasi Waduk Gembong menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya air tidak hanya bergantung pada jumlah air yang tersedia, tetapi juga pada bagaimana air tersebut digunakan.
Dengan volume sekitar 2,4 juta meter kubik dari kapasitas 9,5 juta meter kubik, ruang untuk melakukan distribusi secara bebas semakin kecil. Pengelola harus memperhitungkan kebutuhan pertanian, penguapan, penyerapan, serta batas minimum untuk menjaga keamanan bendungan.
Karena itu, pembatasan debit menjadi langkah logis dalam kondisi saat ini. Jika pengelola terus mengeluarkan air dalam jumlah besar, cadangan akan lebih cepat mendekati batas minimum.
Sebaliknya, penghematan air dapat memperpanjang masa distribusi dan memberi kesempatan bagi wilayah pertanian untuk memperoleh pasokan secara lebih terukur.
Warga dan Petani Perlu Mewaspadai Perubahan Kondisi
Kondisi Waduk Gembong masih dapat berubah karena volume air sangat bergantung pada perkembangan cuaca. Hujan dengan intensitas cukup di wilayah tangkapan air dapat membantu menambah pasokan. Namun, jika kemarau berlanjut, volume air berpotensi kembali menurun.
Oleh sebab itu, informasi mengenai debit air, jadwal distribusi, dan perkembangan cuaca perlu terus dipantau oleh petani serta pihak terkait.
Pada saat yang sama, masyarakat perlu menghindari kesimpulan berlebihan bahwa Waduk Gembong akan langsung kering total dalam dua pekan. Fakta yang disampaikan pengelola lebih spesifik, yakni cadangan untuk kebutuhan irigasi diperkirakan hanya bertahan sekitar dua pekan, sementara sebagian air harus tetap dipertahankan untuk kebutuhan pembasahan dan keamanan bendungan.
Kesimpulan
Penyusutan Waduk Gembong Pati menjadi perhatian serius pada musim kemarau 2026. Dari kapasitas penuh sekitar 9,5 juta meter kubik, volume air kini berada di kisaran 2,4 juta meter kubik.
Kondisi tersebut membuat pengelola mulai mengatur distribusi air untuk pertanian. Dengan permintaan yang masih berlangsung, persediaan untuk irigasi diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar dua pekan.
Namun, masyarakat perlu memahami bahwa angka tersebut bukan berarti seluruh air waduk akan habis. Pengelola harus mempertahankan sekitar 500 ribu meter kubik untuk pembasahan tubuh bendungan dan menjaga keamanan bangunan.
Selanjutnya, perkembangan Waduk Gembong akan sangat bergantung pada kondisi cuaca dan kebijakan distribusi air. Bagi petani, penghematan air, penyesuaian pola tanam, serta koordinasi dengan pengelola menjadi langkah penting untuk menghadapi keterbatasan pasokan hingga musim hujan kembali datang.
Portal Harian
Portal Harian merupakan tim redaksi PortalHarian.com yang menyajikan informasi aktual, faktual, dan informatif seputar Indonesia dan dunia.
Setiap artikel disusun dengan mengutamakan ketepatan informasi, keberimbangan, serta kemudahan pembaca dalam memahami suatu peristiwa. Tim Portal Harian membahas berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, teknologi, bisnis, otomotif, olahraga, hingga informasi dan perkembangan terkini yang relevan bagi masyarakat.
Dalam menyusun pemberitaan, Portal Harian berupaya menggunakan sumber informasi yang dapat dipertanggungjawabkan serta melakukan pengecekan terhadap informasi sebelum dipublikasikan.
PortalHarian.com — Informasi Aktual, Fakta Terpercaya.








1 comment