76% Warga Indonesia Cemas AI Gantikan Pekerjaan, Tertinggi di Dunia

Portalharian.com - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terus melaju dengan sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi yang awalnya hanya digunakan untuk membantu proses otomatisasi sederhana kini telah berkembang menjadi sistem canggih yang mampu melakukan berbagai tugas kompleks, mulai dari analisis data, pembuatan konten, layanan pelanggan, hingga pengambilan keputusan bisnis.

survei-ipsos-2026-warga-indonesia-cemas-ai-gantikan-pekerjaan

Di satu sisi, AI menawarkan berbagai kemudahan dan efisiensi bagi perusahaan maupun individu. Namun di sisi lain, kemajuan teknologi ini juga memunculkan kekhawatiran baru di kalangan masyarakat, terutama terkait masa depan pekerjaan manusia.

Kekhawatiran tersebut tercermin dalam laporan survei terbaru yang dirilis oleh lembaga riset asal Prancis, Ipsos, melalui Predictions Report 2026. Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat dunia mulai merasa cemas terhadap kemungkinan AI menggantikan tenaga kerja manusia dalam berbagai sektor pekerjaan.

Menariknya, Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat kekhawatiran tertinggi di dunia mengenai dampak AI terhadap lapangan kerja.

Indonesia Menjadi Negara dengan Tingkat Kekhawatiran Tertinggi

Dalam survei tersebut, Ipsos menemukan bahwa sebanyak 67% responden secara global merasa khawatir bahwa perkembangan AI akan menyebabkan hilangnya banyak lapangan pekerjaan di masa depan.

Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan hasil survei tahun sebelumnya yang berada di level 64%. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap dampak AI terus meningkat seiring semakin luasnya penggunaan teknologi tersebut dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia kerja.

Di antara 30 negara yang disurvei, Indonesia menempati posisi teratas sebagai negara dengan tingkat kecemasan tertinggi terkait AI dan pekerjaan.

Sebanyak 76% responden Indonesia menyatakan khawatir bahwa AI akan menghilangkan banyak pekerjaan yang saat ini dilakukan manusia. Persentase tersebut sama dengan Singapura yang juga mencatat angka 76%.

Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia mulai menyadari potensi perubahan besar yang akan terjadi di pasar tenaga kerja akibat perkembangan teknologi kecerdasan buatan.

Daftar Negara yang Paling Cemas AI Menggantikan Pekerjaan

Berikut daftar 10 negara dengan tingkat kekhawatiran tertinggi terhadap dampak AI pada lapangan kerja berdasarkan survei Ipsos Predictions Report 2026:

  1. Indonesia – 76%
  2. Singapura – 76%
  3. Kolombia – 73%
  4. Turki – 73%
  5. Prancis – 73%
  6. Malaysia – 72%
  7. Afrika Selatan – 72%
  8. Australia – 72%
  9. Peru – 70%
  10. Britania Raya – 69%

Data tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap AI tidak hanya terjadi di negara berkembang, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat di negara-negara maju seperti Prancis, Australia, dan Britania Raya.

Fenomena ini mengindikasikan bahwa transformasi digital dan otomatisasi menjadi isu global yang memengaruhi hampir seluruh sektor ekonomi.

Survei Melibatkan Lebih dari 23 Ribu Responden

Untuk menghasilkan laporan tersebut, Ipsos melakukan survei terhadap total 23.642 orang dewasa di 30 negara.

Pengumpulan data dilakukan pada periode 24 Oktober hingga 7 November 2025. Responden yang diwawancarai berasal dari berbagai kelompok usia sesuai standar masing-masing negara.

Baca Juga! Ekspor SDA Satu Pintu Lewat PT DSI Resmi Berlaku, Ini Ketentuannya

Di Indonesia dan Singapura, survei melibatkan responden berusia 21 hingga 74 tahun. Sementara di negara lain rentang usia responden disesuaikan dengan kondisi demografi dan metodologi penelitian yang digunakan.

Sebagian besar negara memiliki sekitar 1.000 responden, sedangkan beberapa negara memiliki sekitar 500 responden. Khusus India, jumlah responden mencapai sekitar 2.200 orang yang diwawancarai secara daring maupun tatap muka.

Dengan cakupan yang luas dan melibatkan puluhan ribu responden, hasil survei ini memberikan gambaran yang cukup representatif mengenai pandangan masyarakat dunia terhadap perkembangan AI.

Mengapa Masyarakat Khawatir dengan AI?

Kekhawatiran masyarakat terhadap AI bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan mulai mengadopsi teknologi AI untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi biaya operasional.

AI kini mampu melakukan berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tenaga manusia, seperti:

  • Menjawab pertanyaan pelanggan melalui chatbot.
  • Membuat laporan dan ringkasan dokumen.
  • Mengolah data dalam jumlah besar.
  • Membuat desain grafis sederhana.
  • Menulis konten pemasaran.
  • Membantu proses rekrutmen karyawan.
  • Melakukan analisis keuangan.

Kemampuan AI yang terus berkembang membuat sebagian pekerja merasa posisi mereka berpotensi tergantikan, terutama pada pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang.

Beberapa sektor yang dinilai paling rentan terhadap otomatisasi antara lain administrasi perkantoran, layanan pelanggan, entri data, manufaktur, dan pekerjaan yang banyak bergantung pada proses standar.

AI Tidak Selalu Menghilangkan Pekerjaan

Meski demikian, banyak pakar teknologi dan ekonomi menilai bahwa AI tidak selalu berarti hilangnya pekerjaan secara massal.

Sejarah menunjukkan bahwa setiap revolusi teknologi biasanya memang menghilangkan beberapa jenis pekerjaan, tetapi juga menciptakan profesi baru yang sebelumnya tidak pernah ada.

Contohnya, perkembangan internet melahirkan profesi seperti digital marketer, content creator, data analyst, software engineer, hingga spesialis keamanan siber.

Begitu pula dengan AI. Teknologi ini diperkirakan akan menciptakan berbagai peluang kerja baru di bidang pengembangan AI, pengawasan sistem AI, etika teknologi, data science, machine learning, hingga bidang pendidikan dan pelatihan digital.

Karena itu, tantangan terbesar bukan hanya menghadapi AI, tetapi juga mempersiapkan sumber daya manusia agar mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Pentingnya Meningkatkan Keterampilan Digital

Tingginya tingkat kekhawatiran masyarakat Indonesia terhadap AI dapat menjadi sinyal bagi pemerintah, dunia pendidikan, dan pelaku industri untuk mempercepat pengembangan keterampilan digital.

Kemampuan seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, analisis data, dan pemanfaatan teknologi menjadi semakin penting di era digital.

Pekerjaan yang mengandalkan empati manusia, kepemimpinan, inovasi, serta kemampuan memecahkan masalah kompleks diperkirakan akan tetap memiliki nilai tinggi meskipun AI semakin canggih.

Selain itu, program pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan keterampilan (upskilling) menjadi langkah penting agar tenaga kerja dapat tetap relevan di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat.

Hasil survei Ipsos Predictions Report 2026 menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap dampak AI terhadap lapangan kerja terus meningkat secara global. Sebanyak 67% responden di seluruh dunia mengaku khawatir AI akan menyebabkan hilangnya banyak pekerjaan.

Indonesia bahkan menjadi negara dengan tingkat kecemasan tertinggi bersama Singapura, dengan 76% responden menyatakan khawatir pekerjaan manusia akan tergantikan oleh kecerdasan buatan.

Meskipun AI berpotensi mengubah lanskap dunia kerja secara signifikan, banyak ahli meyakini bahwa teknologi ini juga akan membuka peluang baru. Oleh karena itu, kesiapan dalam meningkatkan keterampilan digital dan kemampuan adaptasi menjadi kunci utama agar masyarakat dapat menghadapi era AI dengan lebih percaya diri dan kompetitif.

Abdul Latif

Menemukan inspirasi dari berbagai hal dan mengubahnya menjadi informasi yang bernilai. Berkomitmen untuk terus belajar, menulis, dan membagikan hal-hal positif setiap harinya.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال