Peternak Pati Hadapi Tekanan Harga Pakan, Pemkab Siapkan Pertemuan dengan Kementan

Hot News14 Dilihat

PATI – Peternak unggas di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, masih menghadapi tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga pakan. Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Pati setelah asosiasi peternak menyampaikan keluhan mengenai tingginya biaya pakan yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.

Pemkab Pati kini menyiapkan langkah lanjutan dengan membawa persoalan tersebut ke Kementerian Pertanian (Kementan). Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati Risma Ardhi Chandra menyampaikan rencana pertemuan bersama asosiasi peternak pada pekan berikutnya untuk mencari solusi atas persoalan harga pakan.

Langkah tersebut muncul setelah pemerintah daerah menggelar audiensi dengan asosiasi peternak unggas di Kabupaten Pati pada Selasa, 18 Agustus 2026. Pertemuan berlangsung di lingkungan DPRD Kabupaten Pati dan membahas sejumlah persoalan yang memengaruhi keberlangsungan usaha peternakan rakyat.

Harga Pakan Menjadi Beban Utama Peternak Pati

Harga pakan menjadi salah satu persoalan paling krusial karena komponen tersebut memiliki porsi besar dalam biaya produksi telur. Ketika harga pakan meningkat, biaya pemeliharaan ayam ikut naik. Pada saat yang sama, peternak harus menghadapi fluktuasi harga telur di tingkat pasar.

Ketua Asosiasi Unggas se-Kabupaten Pati, Dwi Agus Siswanto, menyebut kenaikan harga pakan sudah terasa sekitar dua bulan terakhir. Menurut dia, harga dari pabrik mengalami peningkatan secara bertahap.

Berdasarkan keterangan yang disampaikan dalam audiensi, harga pakan yang sebelumnya berada di sekitar Rp400.000 per 50 kilogram kemudian mencapai sekitar Rp490.000 per 50 kilogram. Harga konsentrat juga mengalami kenaikan dari sekitar Rp400.000 menjadi Rp490.000 per 50 kilogram.

Angka tersebut menunjukkan tekanan biaya yang cukup signifikan bagi peternak. Namun, kondisi itu tidak serta-merta membuat harga telur di pasar bergerak mengikuti kenaikan biaya produksi.

Pakan dan Harga Telur Saling Berkaitan

Secara sederhana, peternak membutuhkan pakan dalam jumlah besar untuk menjaga produktivitas ayam petelur. Karena itu, kenaikan harga pakan langsung memengaruhi perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP).

Pemkab Pati juga mengakui bahwa pakan menjadi salah satu komponen terbesar dalam HPP telur. Jika biaya tersebut terus meningkat, ruang keuntungan peternak semakin sempit.

Situasi tersebut menjadi lebih kompleks ketika pasokan telur melimpah. Peternak tetap harus menjual hasil produksi setiap hari, sedangkan harga pasar dapat berubah mengikuti permintaan dan jumlah pasokan.

Dengan demikian, persoalan peternakan di Pati tidak hanya berkaitan dengan harga telur. Pemerintah juga perlu melihat struktur biaya produksi, distribusi, akses pasar, hingga posisi tawar peternak ketika berhadapan dengan rantai perdagangan.

Kronologi Persoalan Peternak Unggas Pati

Persoalan harga pakan dan pemasaran telur berkembang dalam rangkaian pertemuan antara peternak dan pemerintah daerah.

Aksi Peternak Menjadi Titik Awal Perhatian Pemerintah

Pada 10 Agustus 2026, peternak unggas Pati menyampaikan aspirasi terkait kondisi harga telur dan kenaikan biaya pakan. Sehari kemudian, Pemkab Pati menggelar audiensi lanjutan dengan peternak dan pihak yang berkaitan dengan penyerapan telur.

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah daerah mendorong penyerapan telur peternak lokal melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemkab Pati menyampaikan harga kesepakatan telur sebesar Rp26.000 per kilogram untuk kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Langkah itu memberikan jalur pemasaran tambahan bagi peternak. Meski demikian, penyerapan melalui program MBG belum otomatis menyelesaikan persoalan biaya produksi.

Pemkab dan Peternak Siapkan Pertemuan dengan Kementan

Pada 18 Agustus 2026, Pemkab Pati kembali bertemu dengan asosiasi peternak unggas. Dalam audiensi tersebut, persoalan pakan kembali muncul sebagai salah satu pembahasan utama.

Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra mengatakan pemerintah daerah bersama asosiasi berencana mendatangi Kementerian Pertanian pada pekan berikutnya. Pemkab juga menyiapkan keterlibatan DPRD serta organisasi perangkat daerah terkait.

Pemerintah berharap pertemuan tersebut dapat menghasilkan solusi yang lebih konkret, terutama berkaitan dengan upaya menekan biaya pakan.

Baca Juga! Viral! Momen Plt Bupati Pati Salah Ucap Sila Kedua Pancasila Saat Upacara HUT RI

Dampak Kenaikan Pakan bagi Peternak

Kenaikan harga pakan dapat menimbulkan beberapa dampak langsung terhadap usaha peternakan unggas.

Pertama, biaya produksi meningkat. Peternak harus mengeluarkan modal lebih besar untuk mempertahankan jumlah dan kualitas produksi.

Kedua, margin keuntungan semakin tipis apabila harga telur tidak meningkat sebanding dengan biaya produksi. Kondisi ini dapat mengurangi kemampuan peternak melakukan perawatan kandang, pembelian bibit, serta pengembangan usaha.

Ketiga, risiko usaha meningkat. Peternak rakyat yang memiliki modal terbatas menghadapi tekanan lebih besar ketika kenaikan biaya berlangsung dalam waktu lama.

Keempat, tekanan biaya dapat memengaruhi harga produk peternakan di tingkat konsumen. Meski demikian, perubahan harga tidak selalu berlangsung secara langsung karena pasar juga dipengaruhi pasokan, permintaan, distribusi, serta posisi pedagang.

Karena itu, pemerintah perlu memperhitungkan seluruh rantai pasok sebelum mengambil kebijakan yang menyangkut harga telur maupun pakan.

Analisis: Solusi Tidak Cukup dari Sisi Harga Telur

Upaya Pemkab Pati memperluas penyerapan telur melalui program MBG merupakan salah satu langkah untuk membantu membuka pasar. Namun, pemerintah tetap perlu menyelesaikan persoalan dari sisi hulu.

Pakan menjadi titik penting karena biaya tersebut langsung masuk dalam perhitungan HPP. Jika pemerintah hanya memperkuat penyerapan telur tanpa membantu mengendalikan biaya produksi, peternak masih menghadapi tekanan dari sisi modal.

Sebaliknya, jika pemerintah berhasil memperbaiki akses pasar sekaligus mendorong harga pakan yang lebih kompetitif, dampaknya dapat terasa lebih luas.

Pemkab Pati juga menyatakan sedang berkoordinasi dengan pasar modern agar produk peternak lokal memperoleh saluran pemasaran tambahan. Diversifikasi pasar penting karena peternak tidak hanya bergantung pada satu pembeli atau satu program pemerintah.

Peran Pemerintah Pusat Menjadi Penting

Rencana pertemuan dengan Kementan menjadi bagian penting dalam mencari solusi. Pemerintah pusat memiliki kewenangan dan instrumen kebijakan yang lebih luas untuk membahas persoalan rantai pasok pakan ternak.

Namun, hasil pertemuan tersebut tetap membutuhkan tindak lanjut yang terukur. Peternak membutuhkan kepastian mengenai langkah yang dapat menekan biaya produksi, bukan sekadar pertemuan atau pernyataan.

Di sisi lain, pemerintah daerah dapat memperkuat pendataan peternak, memperluas akses pasar, serta memastikan program MBG menyerap produk lokal sesuai mekanisme yang berlaku.

Pemkab Pati Dorong Ekosistem Peternakan Lebih Kuat

Pemkab Pati saat ini menghadapi dua persoalan yang saling berkaitan, yakni biaya produksi yang meningkat dan kebutuhan memperluas penyerapan hasil peternak lokal.

Pemerintah daerah telah mengambil sejumlah langkah, mulai dari audiensi dengan asosiasi, mendorong penyerapan telur lokal untuk SPPG, hingga menyiapkan pertemuan dengan Kementan. Pemkab juga mulai melakukan pendataan dan geotagging peternak untuk memperkuat basis data pemasok lokal.

Selanjutnya, efektivitas kebijakan akan terlihat dari kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan pasar.

Bagi peternak Pati, persoalan harga pakan bukan sekadar masalah kenaikan harga bahan produksi. Persoalan tersebut menyangkut keberlanjutan usaha, kepastian pasar, dan kemampuan peternak rakyat mempertahankan produksi.

Karena itu, pertemuan Pemkab Pati, asosiasi peternak, DPRD, organisasi perangkat daerah, dan Kementan diharapkan menghasilkan solusi yang dapat diterapkan secara nyata. Dengan kebijakan yang tepat, peternak tidak hanya memperoleh pasar, tetapi juga memiliki struktur biaya yang lebih sehat untuk menjaga keberlanjutan usaha peternakan di Kabupaten Pati.

Catatan fakta: Artikel ini menggunakan informasi yang telah dikonfirmasi melalui publikasi resmi Pemkab Pati/Diskominfo serta laporan media lokal mengenai audiensi peternak pada 18 Agustus 2026. Angka harga pakan ditulis berdasarkan keterangan asosiasi sebagaimana diberitakan, tanpa menambahkan klaim yang belum terverifikasi.

Portal Harian

Portal Harian merupakan tim redaksi PortalHarian.com yang menyajikan informasi aktual, faktual, dan informatif seputar Indonesia dan dunia.

Setiap artikel disusun dengan mengutamakan ketepatan informasi, keberimbangan, serta kemudahan pembaca dalam memahami suatu peristiwa. Tim Portal Harian membahas berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, teknologi, bisnis, otomotif, olahraga, hingga informasi dan perkembangan terkini yang relevan bagi masyarakat.

Dalam menyusun pemberitaan, Portal Harian berupaya menggunakan sumber informasi yang dapat dipertanggungjawabkan serta melakukan pengecekan terhadap informasi sebelum dipublikasikan.

PortalHarian.com — Informasi Aktual, Fakta Terpercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *