Portalharian.com - Era baru investasi Berkshire Hathaway resmi dimulai. Di bawah komando Chief Executive Officer (CEO) yang baru, Greg Abel, raksasa investasi asal Amerika Serikat ini langsung menggebrak pasar keuangan global. Dalam tiga bulan pertama sejak menggantikan sang legenda Warren Buffett sebagai kepala eksekutif, Abel melakukan perombakan portofolio terbesar dalam sejarah perusahaan. Langkah agresif ini menandai pergeseran arah investasi strategis yang menarik perhatian para pelaku pasar di seluruh dunia.
Manuver Agresif di Saham Alphabet (Google)
Perubahan paling mencolok dalam keterbukaan informasi terbaru Berkshire Hathaway ke Securities and Exchange Commission (SEC) adalah investasi pada induk Google, Alphabet. Tidak tanggung-tanggung, kepemilikan saham Berkshire di raksasa teknologi tersebut melonjak drastis hingga 224 persen sepanjang kuartal pertama tahun 2026. Keputusan berani ini membuktikan bahwa manajemen baru sangat optimistis terhadap prospek pertumbuhan sektor teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang dimotori oleh Google.
Berdasarkan laporan keuangan resmi dari Money, nilai investasi Berkshire di Alphabet kini telah menyentuh angka fantastis, yaitu 16,6 miliar dollar AS pada akhir kuartal I 2026. Nilai jumbo tersebut otomatis menempatkan Alphabet sebagai kepemilikan saham terbesar ketujuh dalam portofolio keseluruhan Berkshire Hathaway. Keputusan investasi ini pun terbukti jitu dan langsung membuahkan keuntungan besar bagi perusahaan.
Sejak penutupan kuartal pertama 2026, harga saham Alphabet dilaporkan telah melonjak sekitar 38 persen. Aksi borong saham yang sangat agresif ini dinilai oleh para analis hampir pasti merupakan keputusan murni dari Greg Abel. Kendati demikian, langkah besar ini diyakini tetap diambil dengan persetujuan atau setidaknya melalui masukan strategis langsung dari Warren Buffett yang kini bertindak sebagai mentor senior.
Lepas Amazon dan Belasan Emiten Lain
Di sisi lain, Berkshire Hathaway juga melakukan efisiensi besar-besaran dengan memangkas jumlah emiten dalam portofolionya secara signifikan. Kebijakan "cuci gudang" ini sejalan dengan rumor yang beredar mengenai pengurangan aset yang sebelumnya dikelola oleh Todd Combs. Combs sendiri merupakan mantan manajer portofolio bertangan dingin Berkshire yang kini telah memilih berkarir di JPMorgan.
Langkah paling mengejutkan dalam pemangkasan ini adalah keputusan Berkshire untuk keluar sepenuhnya dari investasi mereka di raksasa e-commerce Amazon. Sisa 2,3 juta lembar saham Amazon dilepas tak bersisa pada kuartal pertama 2026. Aksi jual ini merupakan kelanjutan dari kuartal IV tahun lalu, di mana Berkshire telah melepas 7,7 juta lembar saham dari total kepemilikan awal mereka sebesar 10 juta saham Amazon.
Selain Amazon, Berkshire Hathaway juga terpantau menghapus seluruh kepemilikan mereka pada belasan perusahaan ternama lainnya. Berikut adalah daftar emiten yang resmi didepak dari portofolio:
- Sektor Keuangan & Layanan: Visa, Mastercard, Aon, dan Pool Corp.
- Sektor Kesehatan & Konsumsi: UnitedHealth, Domino’s Pizza, dan Diageo.
- Sektor Industri & Media: Heico, Charter Communications, Lamar Advertising, Allegion, dan Atlanta Braves Holdings.
Pengurangan drastis juga menimpa Constellation Brands, di mana posisi investasi Berkshire di perusahaan minuman tersebut nyaris musnah setelah dipangkas hingga 95 persen.
Nasib Apple, Bank of America, dan Chevron
Meskipun terjadi badai perombakan besar, dua pilar investasi utama Berkshire Hathaway, yaitu Apple dan Bank of America, relatif aman dan dipertahankan. Manajemen memilih tidak mengubah satu lembar saham pun pada posisi mereka di Apple. Sementara itu, kepemilikan di Bank of America hanya dikurangi sangat tipis, yaitu kurang dari 1 persen, menegaskan bahwa perusahaan masih memercayai sektor perbankan tradisional.
Catatan Strategis: Sebaliknya, raksasa minyak Chevron justru menjadi korban pengurangan terbesar jika diukur berdasarkan nilai pasar aktual. Greg Abel memangkas sekitar 35 persen kepemilikan Berkshire di Chevron dengan nilai pelepasan lebih dari 8 miliar dollar AS.
Langkah ini tergolong unik karena Berkshire justru menjual saham Chevron saat harga minyak dunia dan saham sektor migas tersebut sedang merangkak naik akibat sentimen ketegangan geopolitik perang Iran. Meski telah dipangkas sepertiga lebih, sisa investasi Berkshire di Chevron terpantau masih bernilai sangat besar, yakni di atas 17 miliar dollar AS. Secara year to date (YTD), emiten minyak ini sebenarnya masih mencatatkan penguatan impresif sebesar 25,4 persen berkat tingginya permintaan energi global.
Kembali ke Bisnis Penerbangan Lewat Delta Air Lines
Kejutan lain dari tangan dingin Greg Abel adalah kembalinya Berkshire Hathaway ke sektor maskapai penerbangan. Berkshire membuka posisi baru yang sangat masif dengan membeli sekitar 39,8 juta lembar saham Delta Air Lines. Nilai investasi baru di maskapai ini diperkirakan berada di kisaran 2,8 miliar dollar AS, menjadikannya penambahan terbesar kedua setelah Alphabet.
Baca Juga! Rupiah Tembus Rp17.500, Mengapa Intervensi Bank Indonesia Dinilai Kehilangan Tenaga?
Langkah ini menandai perubahan arah angin yang drastis. Seperti diketahui, Berkshire terakhir kali keluar dari industri penerbangan pada tahun 2020 lalu, ketika pandemi Covid-19 menghancurkan industri aviasi global. Kala itu, Warren Buffett memilih menjual seluruh saham maskapai milik perusahaan termasuk Delta, American Airlines, Southwest Airlines, dan United Airlines dengan menelan kerugian yang cukup besar akibat jatuhnya angka perjalanan udara.
Secara historis, Warren Buffett terkenal memiliki sikap skeptis terhadap bisnis penerbangan. Dalam suratnya kepada pemegang saham tahun 2007, Buffett pernah mengkritik bahwa maskapai adalah bisnis yang padat modal, tumbuh cepat, namun menghasilkan keuntungan yang sangat minim. Oleh karena itu, keputusan untuk kembali memborong saham Delta Air Lines saat ini dianalisis kuat sebagai representasi murni dari gaya dan strategi investasi baru yang diusung oleh Greg Abel.
Sektor Media dan Ritel Turut Diperkuat
Selain fokus pada teknologi dan transportasi, Berkshire juga memperluas cengkeramannya di sektor media komunikasi dan ritel konvensional. Kepemilikan saham di surat kabar legendaris New York Times dilipatgandakan menjadi total 15,1 juta lembar saham, dengan valuasi pasar menyentuh lebih dari 1,1 miar dollar AS.
Tak hanya itu, Berkshire juga membuka posisi baru di jaringan department store terkemuka, Macy’s. Walaupun nilai investasinya tergolong kecil untuk ukuran Berkshire yaitu sekitar 59 juta dollar AS efek psikologis pasar langsung terasa. Sesaat setelah laporan SEC ini bocor ke publik, harga saham Macy’s langsung melonjak naik lebih dari 5 persen pada sesi perdagangan pasca-penutupan (after-hours trading).
Lelang Makan Siang Amal Warren Buffett
Di luar aktivitas transaksi saham perusahaan yang bernilai miliaran dollar, sang mentor Warren Buffett tetap konsisten dengan aksi kemanusiaannya. Lelang amal makan siang legendaris bersama Buffett kembali digelar dan berhasil memecahkan rekor baru. Seorang penawar anonim memenangkan lelang makan siang eksklusif tersebut dengan nilai tawaran fantastis sebesar 9 juta dollar AS atau setara dengan Rp 148 miliar.
Makan siang kali ini terasa semakin spesial karena sang pemenang tidak hanya bertemu dengan Buffett, melainkan juga akan ditemani oleh bintang NBA Stephen Curry serta pengusaha sekaligus penulis terkenal, Ayesha Curry. Menariknya, Warren Buffett secara pribadi menambahkan donasi dari kantongnya sendiri sebesar 18 juta dollar AS, sehingga total dana yang terkumpul menjadi 27 juta dollar AS.
Seluruh dana jumbo yang terkumpul dari lelang dan donasi pribadi tersebut akan disalurkan secara merata kepada dua lembaga sosial, yaitu:
- Glide Foundation: Berbasis di San Francisco, berfokus pada penanganan kemiskinan dan kaum marjinal.
- Eat. Learn. Play. Foundation: Milik keluarga Curry, berfokus pada pemenuhan gizi serta akses pendidikan berkualitas bagi siswa-siswi kurang mampu di Oakland.
Aksi nyata ini melengkapi tradisi lelang makan siang Buffett yang selama lebih dari dua dekade telah berhasil mengumpulkan total lebih dari 53 juta dollar AS untuk misi kemanusiaan di seluruh dunia.
