Israel Terus Langgar Gencatan, Korban Tewas Lebih Dari 67 Ribu Jiwa
Israel Terus Langgar Gencatan, Korban Tewas Lebih Dari 67 Ribu Jiwa
Krisis Kemanusiaan yang Tak Kunjung Usai
Konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina kembali menunjukkan wajah kelamnya. Meskipun telah diumumkan beberapa kali gencatan senjata oleh komunitas internasional, laporan terbaru menunjukkan bahwa Israel terus melanggar kesepakatan tersebut. Serangan demi serangan masih terjadi di wilayah Gaza dan Tepi Barat, mengakibatkan lebih dari 67 ribu jiwa tewas sejak awal eskalasi terbaru ini.
Data yang dirilis oleh berbagai lembaga kemanusiaan menyebutkan bahwa sebagian besar korban adalah warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Kondisi ini membuat dunia internasional semakin geram terhadap pelanggaran hukum perang yang dilakukan secara berulang oleh militer Israel.
Gencatan Senjata yang Hanya di Atas Kertas
Gencatan senjata seharusnya menjadi langkah awal menuju perdamaian. Namun, dalam kasus konflik Israel-Palestina, gencatan sering kali hanya berlangsung beberapa hari sebelum peluru kembali berjatuhan.
Menurut laporan dari Human Rights Watch (HRW) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), beberapa serangan udara dan darat Israel diluncurkan bahkan kurang dari 24 jam setelah pengumuman gencatan terakhir.
Para analis politik Timur Tengah menilai bahwa pemerintah Israel menggunakan alasan keamanan nasional untuk melanjutkan operasi militernya, meskipun korban yang jatuh sebagian besar bukan dari kelompok bersenjata. Di sisi lain, kelompok perlawanan Palestina juga menolak untuk menyerah, menyebut tindakan Israel sebagai penjajahan dan pelanggaran hak asasi manusia.
Bukti Pelanggaran yang Kian Jelas
Sejumlah video dan foto yang beredar di media sosial menunjukkan kerusakan masif pada infrastruktur sipil, termasuk rumah sakit, sekolah, dan tempat ibadah. Banyak pihak menilai hal ini sebagai bukti kuat bahwa serangan Israel tidak lagi proporsional, melainkan bertujuan melemahkan penduduk sipil.
Laporan dari organisasi kemanusiaan di lapangan menyebutkan bahwa bantuan medis sulit masuk ke Gaza akibat blokade ketat yang diberlakukan Israel. Kondisi ini menyebabkan ribuan korban luka tidak mendapatkan perawatan layak, memperbesar angka kematian dari hari ke hari.
Reaksi Dunia Internasional
PBB dan Uni Eropa Serukan Investigasi
Sekretaris Jenderal PBB secara tegas menyatakan bahwa tindakan Israel melanggar hukum humaniter internasional. Beberapa negara anggota Dewan Keamanan PBB menyerukan dilakukannya investigasi independen terhadap dugaan kejahatan perang yang dilakukan oleh militer Israel.
Sementara itu, Uni Eropa dan sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia, menyerukan agar gencatan senjata segera ditegakkan kembali secara permanen. Mereka juga mendesak agar bantuan kemanusiaan internasional dapat disalurkan tanpa hambatan.
Sikap Amerika Serikat yang Menuai Kritik
Meskipun tekanan global meningkat, Amerika Serikat dinilai masih bersikap lunak terhadap Israel. Dukungan militer dan politik yang terus diberikan oleh Washington dianggap sebagai penyebab utama Israel merasa kebal terhadap sanksi internasional.
Sejumlah pengamat menilai bahwa jika AS benar-benar ingin menghentikan pertumpahan darah, mereka harus menekan Israel dengan langkah nyata — bukan hanya pernyataan diplomatik.
Dampak Kemanusiaan yang Mengkhawatirkan
Situasi di Gaza kini berada pada titik krisis total. Lebih dari 70% wilayahnya hancur, listrik hanya menyala beberapa jam per hari, dan akses air bersih sangat terbatas. Rumah sakit kewalahan menerima korban, sementara obat-obatan dan pasokan makanan semakin menipis.
Anak-anak menjadi korban paling rentan. Ribuan di antaranya kehilangan keluarga, mengalami trauma mendalam, dan hidup tanpa tempat berlindung. Badan UNICEF menyebut situasi ini sebagai “bencana kemanusiaan terburuk abad ini.”
Selain korban jiwa yang mencapai lebih dari 67 ribu orang, jutaan lainnya kini menghadapi ancaman kelaparan dan penyakit menular. Epidemi diare, infeksi pernapasan, hingga stres pasca trauma menjadi ancaman baru bagi warga sipil yang selamat.
Tuntutan Gencatan Senjata Permanen
Para aktivis perdamaian di seluruh dunia kini bersatu menyerukan gencatan senjata permanen. Mereka menekankan pentingnya dialog politik jangka panjang dan penghentian blokade Gaza sebagai langkah awal menuju stabilitas.
Berbagai aksi solidaritas muncul di kota-kota besar dunia seperti London, Paris, Jakarta, dan New York. Ribuan demonstran menuntut agar pemerintah mereka menekan Israel untuk mematuhi resolusi PBB dan menghentikan pelanggaran hak asasi manusia di wilayah Palestina.
Harapan Perdamaian yang Masih Ada
Meski situasi sangat berat, sebagian masyarakat internasional masih percaya bahwa perdamaian di Timur Tengah bukan hal mustahil. Diperlukan keberanian politik dan keseriusan dari semua pihak untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan.
Kesimpulan
Israel terus langgar gencatan, korban tewas lebih dari 67 ribu jiwa — fakta ini menjadi bukti bahwa krisis kemanusiaan di Palestina belum berakhir. Dunia tidak boleh tinggal diam.
Tanpa tekanan internasional yang kuat, pelanggaran ini akan terus terjadi dan menambah panjang daftar korban tak berdosa.
Saatnya masyarakat global bersatu untuk menuntut keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian sejati bagi rakyat Palestina.
Karena setiap jiwa yang hilang adalah pengingat bahwa perang tidak pernah membawa kemenangan — hanya penderitaan.
.webp)