Mengenal Arti Doom Spending di Kalangan Gen Z
Portal Harian – Perkembangan media sosial, inflasi, serta ketidakpastian ekonomi telah melahirkan berbagai istilah baru dalam dunia keuangan. Salah satu istilah yang semakin sering muncul adalah doom spending. Fenomena ini banyak dikaitkan dengan Generasi Z atau Gen Z yang lahir sekitar tahun 1997 hingga 2012.
Doom spending menggambarkan kebiasaan seseorang yang terus membelanjakan uang secara impulsif karena merasa pesimistis terhadap kondisi ekonomi maupun masa depan. Alih-alih menabung atau berinvestasi, mereka justru memilih menikmati uang saat ini dengan alasan masa depan dianggap penuh ketidakpastian.
Fenomena tersebut menarik perhatian para ekonom, psikolog, hingga perencana keuangan. Pasalnya, doom spending tidak hanya memengaruhi kondisi finansial individu, tetapi juga mencerminkan perubahan perilaku konsumsi generasi muda di era digital.
Artikel ini akan membahas secara lengkap arti doom spending, faktor penyebabnya, dampaknya terhadap kondisi keuangan, hingga strategi untuk menghindari kebiasaan tersebut.
Apa Itu Doom Spending?
Pengertian Doom Spending
Doom spending merupakan istilah yang mengacu pada perilaku menghabiskan uang secara berlebihan karena seseorang merasa masa depan tidak pasti.
Dengan kata lain, seseorang berpikir bahwa menabung atau merencanakan keuangan jangka panjang terasa kurang bermanfaat karena berbagai tantangan ekonomi dianggap sulit dikendalikan.
Akibatnya, muncul pola pikir seperti:
- “Harga rumah semakin mahal.”
- “Biaya hidup terus naik.”
- “Sulit memiliki aset.”
- “Lebih baik menikmati uang sekarang.”
Pola pikir tersebut kemudian mendorong seseorang membeli barang atau menikmati pengalaman tertentu sebagai bentuk pelarian dari kecemasan.
Mengapa Doom Spending Banyak Terjadi pada Gen Z?
1. Ketidakpastian Ekonomi
Beberapa tahun terakhir, dunia menghadapi berbagai tantangan ekonomi.
Misalnya:
- Inflasi meningkat.
- Harga kebutuhan pokok naik.
- Suku bunga berubah.
- Lapangan kerja semakin kompetitif.
Situasi tersebut membuat sebagian Gen Z merasa sulit mencapai tujuan finansial seperti membeli rumah atau membangun investasi.
Karena itu, sebagian memilih menikmati penghasilan saat ini dibandingkan menunda kepuasan.
2. Pengaruh Media Sosial
Media sosial menjadi faktor penting dalam meningkatnya perilaku konsumtif.
Setiap hari pengguna melihat:
- konten liburan,
- gadget terbaru,
- fesyen,
- restoran populer,
- gaya hidup influencer.
Paparan tersebut memunculkan rasa takut tertinggal atau Fear of Missing Out (FOMO).
Akibatnya, seseorang terdorong membeli barang yang sebenarnya belum menjadi kebutuhan utama.
3. Kemudahan PayLater dan Kartu Kredit
Saat ini hampir seluruh platform e-commerce menawarkan fasilitas pembayaran cicilan.
Selain itu, layanan PayLater memungkinkan pengguna membeli barang meskipun belum memiliki dana yang cukup.
Kemudahan tersebut memang membantu transaksi. Namun, apabila tidak dikelola secara bijak, fasilitas tersebut dapat meningkatkan perilaku doom spending.
4. Tekanan Psikologis
Tidak sedikit Gen Z menggunakan belanja sebagai cara mengurangi stres.
Setelah menerima gaji, mereka membeli makanan, pakaian, atau gadget untuk memperoleh rasa senang sesaat.
Namun, efek tersebut biasanya hanya berlangsung sementara.
Setelah itu muncul rasa bersalah karena pengeluaran meningkat.
Ciri-Ciri Doom Spending
Sulit Mengendalikan Pengeluaran
Pelaku doom spending sering membeli barang tanpa perencanaan.
Mereka juga jarang membuat anggaran bulanan.
Menggunakan Alasan “Hidup Hanya Sekali”
Kalimat seperti “YOLO” atau You Only Live Once sering menjadi pembenaran untuk membeli barang mahal.
Padahal, keputusan tersebut belum tentu sesuai kemampuan finansial.
Tabungan Sulit Bertambah
Meskipun memiliki pendapatan tetap, saldo tabungan cenderung stagnan.
Setiap kenaikan gaji justru diikuti kenaikan gaya hidup.
Belanja Saat Emosi Tidak Stabil
Sebagian orang membeli barang ketika merasa sedih, kecewa, atau cemas.
Belanja menjadi pelarian emosional, bukan kebutuhan.
Kronologi Munculnya Istilah Doom Spending
Berawal dari Perubahan Kondisi Ekonomi Global
Istilah doom spending mulai banyak digunakan setelah masyarakat menghadapi berbagai tantangan ekonomi beberapa tahun terakhir.
Pandemi COVID-19 menjadi salah satu titik balik yang mengubah cara masyarakat memandang masa depan.
Banyak orang menyaksikan kehilangan pekerjaan, perlambatan ekonomi, hingga kenaikan biaya hidup.
Selanjutnya, berbagai survei perilaku konsumen menunjukkan bahwa sebagian masyarakat memilih meningkatkan konsumsi sebagai respons terhadap ketidakpastian tersebut.
Media internasional kemudian menggunakan istilah doom spending untuk menjelaskan perubahan pola konsumsi tersebut.
Seiring waktu, fenomena ini juga ramai dibahas di media sosial, terutama oleh Gen Z yang sering membagikan pengalaman mengenai pengelolaan keuangan dan gaya hidup.
Dampak Doom Spending terhadap Keuangan
1. Kesulitan Membangun Dana Darurat
Dana darurat menjadi fondasi keuangan.
Namun, doom spending membuat sebagian orang lebih memilih membeli barang dibanding menyisihkan uang.
Akibatnya, ketika terjadi kondisi darurat, mereka kesulitan memenuhi kebutuhan mendesak.
2. Risiko Utang Meningkat
Penggunaan PayLater, kartu kredit, maupun pinjaman digital dapat meningkat apabila kebiasaan belanja tidak terkendali.
Jika tagihan terus bertambah, beban keuangan menjadi semakin berat.
3. Tujuan Finansial Tertunda
Membeli rumah, kendaraan, pendidikan lanjutan, hingga investasi memerlukan disiplin menabung.
Sayangnya, doom spending sering menghambat pencapaian tujuan tersebut.
4. Stres Finansial
Ironisnya, belanja yang awalnya bertujuan mengurangi stres justru dapat memunculkan kecemasan baru.
Tagihan yang menumpuk sering kali meningkatkan tekanan psikologis.
Dampak terhadap Perekonomian
Sisi Positif
Dalam jangka pendek, peningkatan konsumsi masyarakat dapat membantu mendorong aktivitas ekonomi.
Permintaan terhadap produk dan jasa meningkat sehingga pelaku usaha memperoleh peluang penjualan yang lebih besar.
Sisi Negatif
Sebaliknya, apabila masyarakat terlalu konsumtif tanpa memperhatikan kondisi keuangan, daya tahan finansial rumah tangga dapat melemah.
Kondisi tersebut berpotensi mengurangi kemampuan masyarakat menghadapi perlambatan ekonomi di masa mendatang.
Baca Juga! Profil Mitchell Baker, Debutan Timnas Indonesia yang Langsung Cetak Hattrick di Piala AFF 2026
Analisis: Mengapa Gen Z Rentan Mengalami Doom Spending?
Perubahan Cara Pandang terhadap Masa Depan
Generasi sebelumnya umumnya berfokus pada kepemilikan aset.
Sebaliknya, sebagian Gen Z lebih menghargai pengalaman, fleksibilitas, dan kualitas hidup saat ini.
Perubahan tersebut dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, media sosial, serta dinamika ekonomi global.
Selain itu, harga properti yang meningkat dan biaya hidup yang terus bertambah membuat sebagian anak muda merasa target finansial semakin sulit dicapai.
Karena itu, muncul kecenderungan menikmati penghasilan saat ini dibanding menunda konsumsi.
Namun, pendekatan tersebut tetap memerlukan keseimbangan agar kondisi keuangan jangka panjang tidak terganggu.
Cara Menghindari Doom Spending
Buat Anggaran Bulanan
Pisahkan kebutuhan pokok, tabungan, investasi, dan hiburan.
Dengan demikian, pengeluaran menjadi lebih terkontrol.
Terapkan Aturan 24 Jam
Sebelum membeli barang yang bukan kebutuhan utama, tunggu selama 24 jam.
Cara sederhana ini membantu mengurangi keputusan impulsif.
Batasi Paparan Konten Konsumtif
Kurangi mengikuti akun yang sering mendorong gaya hidup konsumtif.
Sebaliknya, ikuti akun edukasi keuangan agar perspektif terhadap uang menjadi lebih sehat.
Bangun Dana Darurat
Prioritaskan dana darurat sebelum membeli barang mewah.
Langkah ini memberikan rasa aman ketika menghadapi kondisi tak terduga.
Tetapkan Target Finansial
Misalnya:
- memiliki dana darurat enam bulan pengeluaran,
- membeli kendaraan,
- investasi rutin,
- dana pendidikan,
- dana pensiun.
Target yang jelas akan meningkatkan motivasi untuk menabung.
Tips Mengelola Keuangan bagi Gen Z
Gunakan Metode 50/30/20
Banyak perencana keuangan merekomendasikan pembagian pendapatan sebagai berikut:
- 50% kebutuhan pokok
- 30% keinginan
- 20% tabungan atau investasi
Persentase tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.
Catat Semua Pengeluaran
Aplikasi pencatat keuangan membantu mengetahui ke mana uang digunakan setiap bulan.
Dengan begitu, pengeluaran yang tidak penting lebih mudah dikurangi.
Tingkatkan Literasi Keuangan
Membaca buku, mengikuti seminar, atau mempelajari investasi dapat membantu membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat.
Semakin baik pemahaman seseorang mengenai keuangan, semakin kecil kemungkinan mengambil keputusan impulsif.
Ringkasan
Mengenal arti doom spending di kalangan Gen Z menjadi penting karena fenomena ini semakin banyak dibahas di tengah perubahan ekonomi dan perkembangan teknologi digital. Doom spending bukan sekadar kebiasaan berbelanja, melainkan respons psikologis terhadap rasa tidak pasti mengenai masa depan.
Walaupun menikmati hasil kerja merupakan hal yang wajar, keseimbangan tetap menjadi kunci. Perencanaan keuangan yang matang, disiplin mengatur anggaran, serta peningkatan literasi finansial dapat membantu seseorang menghindari kebiasaan belanja impulsif.
Pada akhirnya, keputusan finansial yang bijak tidak hanya memberikan rasa aman di masa kini, tetapi juga membuka peluang mencapai tujuan jangka panjang. Dengan memahami penyebab, dampak, dan cara mengatasinya, Gen Z dapat membangun kondisi keuangan yang lebih sehat tanpa harus mengorbankan kualitas hidup.



