Jakarta – Momen kebersamaan Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri yang terlihat bergandengan tangan seusai Upacara Hari Lahir Pancasila menjadi perhatian publik. Kehangatan yang ditunjukkan kedua tokoh nasional tersebut memunculkan berbagai spekulasi dan pembahasan di ruang publik, terutama terkait dinamika hubungan politik antara keduanya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Said Abdullah memberikan penjelasan mengenai hubungan antara Prabowo dan Megawati. Menurutnya, kedekatan yang terlihat dalam peringatan Hari Lahir Pancasila bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba, melainkan berakar dari hubungan panjang yang telah terjalin selama puluhan tahun.
Persahabatan yang Terjalin Selama Puluhan Tahun
Said Abdullah menjelaskan bahwa hubungan Prabowo dan Megawati memiliki fondasi kuat berupa persahabatan yang telah berlangsung lama. Kedua tokoh tersebut telah mengenal satu sama lain dalam berbagai fase perjalanan politik Indonesia.
Ia mengingatkan bahwa Prabowo dan Megawati pernah berada dalam satu barisan politik saat Pemilihan Presiden 2009. Pada saat itu, Megawati maju sebagai calon presiden dengan Prabowo sebagai calon wakil presiden. Meskipun kontestasi politik tersebut telah berakhir, hubungan personal dan komunikasi antara keduanya tetap terjalin dengan baik.
Menurut Said, persahabatan tersebut tidak terpengaruh oleh dinamika politik yang berubah dari waktu ke waktu. Bahkan ketika PDIP mengusung Joko Widodo pada Pilpres 2014 dan berhadapan langsung dengan Prabowo dalam kompetisi politik nasional, hubungan pribadi antara Megawati dan Prabowo tetap terjaga.
Ia menegaskan bahwa kedekatan keduanya bukan sekadar hubungan yang terlihat dalam berbagai pertemuan informal yang kerap disorot publik. Persahabatan itu, menurutnya, dibangun atas dasar saling menghormati dan saling memahami perjalanan masing-masing sebagai tokoh bangsa.
"Persahabatan kedua beliau ini kokoh. Pertemanan itu tulus dan terus terjaga meskipun keduanya berada pada posisi politik yang berbeda dalam berbagai momentum pemilihan umum," ujar Said.
Hubungan yang Melampaui Kepentingan Politik Praktis
Selain faktor persahabatan, Said juga menyoroti aspek kenegarawanan yang menjadi salah satu alasan mengapa hubungan Prabowo dan Megawati tetap harmonis.
Saat ini Megawati masih dipercaya untuk memegang sejumlah posisi strategis negara, termasuk sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Menurut Said, keberlanjutan kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa Presiden Prabowo memandang Megawati sebagai sosok yang memiliki kapasitas dan pengalaman kenegaraan yang besar. Kepercayaan itu tetap diberikan meskipun PDIP saat ini berada di luar pemerintahan.
Baca Juga! Polisi Selidiki Motif Tetangga Siram Air ke Warga yang Hendak Salat di Tangerang
Ia menilai langkah tersebut menunjukkan bahwa dalam beberapa urusan strategis negara, pertimbangan yang digunakan tidak semata-mata didasarkan pada kepentingan politik praktis, melainkan pada kapasitas dan kontribusi seseorang terhadap bangsa.
"Presiden Prabowo memandang Ibu Megawati memiliki kapasitas kenegarawanan yang dibutuhkan dalam lembaga-lembaga strategis negara. Begitu pula sebaliknya, keduanya memiliki pandangan yang sama mengenai pentingnya menjaga kepentingan bangsa di atas kepentingan politik jangka pendek," kata Said.
Pancasila Menjadi Titik Temu Kedua Tokoh
Said menilai salah satu faktor penting yang mempererat hubungan Prabowo dan Megawati adalah kesamaan pandangan terhadap pentingnya Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP, Megawati selama ini dikenal aktif mendorong penguatan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat. Di sisi lain, pemerintahan Prabowo juga menempatkan penguatan ideologi Pancasila sebagai salah satu fondasi pembangunan nasional.
Menurut Said, kesamaan pandangan tersebut membuat kedua tokoh memiliki ruang kerja sama yang luas dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan.
Ia menegaskan bahwa urusan Pancasila merupakan kepentingan bersama yang berada di atas perbedaan politik maupun kepentingan partai. Karena itu, kehangatan yang terlihat dalam peringatan Hari Lahir Pancasila dinilai sebagai bentuk nyata dari kesamaan visi kebangsaan tersebut.
"Momentum kebersamaan pada Hari Lahir Pancasila merupakan manifestasi dari komitmen kedua tokoh untuk terus menjaga nilai-nilai dasar bangsa," ujarnya.
Perbedaan Politik Tidak Berarti Menjadi Musuh
Said juga menjelaskan bahwa hubungan Prabowo dan Megawati dibangun di atas pandangan politik kebangsaan yang matang. Dalam perspektif tersebut, perbedaan posisi politik tidak harus diartikan sebagai permusuhan.
Meskipun PDIP saat ini mengambil posisi sebagai partai penyeimbang di luar pemerintahan, hubungan antara kedua tokoh tetap berjalan dengan baik. Perbedaan pandangan dalam menyikapi berbagai kebijakan negara dianggap sebagai bagian dari dinamika demokrasi yang sehat.
Menurut Said, Prabowo tidak memandang kritik maupun masukan dari PDIP sebagai bentuk perlawanan politik. Sebaliknya, kritik tersebut dianggap sebagai kontribusi dalam proses pembangunan bangsa.
Ia mencontohkan pidato Presiden Prabowo di DPR pada 20 Mei lalu yang memberikan apresiasi terhadap berbagai masukan dan pandangan yang disampaikan kader-kader PDIP di parlemen.
"Bagi saya, kedua tokoh ini telah berada pada level politik yang lebih tinggi, yaitu berpolitik untuk kepentingan bangsa dan negara, bukan sekadar mengejar kekuasaan," ujar Said.
Menjadi Teladan dalam Politik Nasional
Lebih lanjut, Said menilai hubungan yang terjalin antara Megawati dan Prabowo dapat menjadi contoh bagi para politisi dan kader partai politik di Indonesia.
Menurutnya, perbedaan pandangan politik seharusnya tidak menghilangkan rasa hormat dan kemampuan untuk bekerja sama demi kepentingan masyarakat. Hal inilah yang kemudian tercermin dalam hubungan antara Fraksi PDIP dan Fraksi Gerindra di DPR.
Meski kerap memiliki pandangan berbeda dalam pembahasan sejumlah kebijakan, kedua fraksi tetap mampu menjalin komunikasi yang baik dan mencari titik temu demi kepentingan rakyat.
Said menegaskan bahwa sikap saling menghormati yang ditunjukkan oleh Megawati dan Prabowo menjadi teladan penting dalam menjaga kualitas demokrasi Indonesia.
"Perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. Namun yang lebih penting adalah bagaimana semua pihak tetap mampu menjaga persatuan, saling menghargai, dan bekerja sama untuk kepentingan bangsa," pungkasnya.
Momen bergandengan tangan antara Prabowo dan Megawati pada peringatan Hari Lahir Pancasila pun akhirnya tidak hanya dimaknai sebagai simbol keakraban pribadi, tetapi juga sebagai pesan politik yang menunjukkan bahwa persatuan, kebangsaan, dan kepentingan negara dapat ditempatkan di atas berbagai perbedaan politik yang ada.
