Inflasi Mei 2026 Capai 0,28%, Cabai Merah dan Minyak Goreng Jadi Penyumbang Utama

Portalharian.com – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,28% pada Mei 2026 secara bulanan (month to month/mtm). Sementara itu, secara tahunan (year on year/yoy), tingkat inflasi tercatat sebesar 3,08%, sedangkan secara tahun kalender (year to date/ytd) mencapai 1,35%.

inflasi-mei-2026-cabai-merah-minyak-goreng-penyumbang-utama

Kenaikan harga sejumlah bahan pangan, terutama cabai merah dan minyak goreng, menjadi faktor utama yang mendorong inflasi pada bulan tersebut. Selain itu, beberapa komoditas pangan lain seperti bawang merah, tomat, dan beras juga memberikan kontribusi signifikan terhadap kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK).

Data ini menunjukkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi salah satu faktor paling berpengaruh terhadap pergerakan inflasi nasional.

Inflasi Mei 2026 Sebesar 0,28 Persen

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa inflasi pada Mei 2026 terjadi akibat kenaikan harga di sejumlah kelompok pengeluaran masyarakat.

Menurutnya, secara bulanan Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,28%, yang menunjukkan adanya peningkatan harga barang dan jasa dibandingkan bulan sebelumnya.

Meski angka tersebut masih berada dalam rentang yang relatif terkendali, pemerintah dan pelaku ekonomi tetap perlu mencermati perkembangan harga kebutuhan pokok yang menjadi konsumsi utama masyarakat.

Kelompok Makanan dan Minuman Jadi Penyumbang Terbesar

BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Mei 2026. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,39% dan memberikan andil sebesar 0,12% terhadap inflasi nasional.

Baca Juga! Dolar AS Diprediksi Tembus Rp18.200, Ini Dampak Buruk bagi Ekonomi Indonesia dan Masyarakat

Besarnya kontribusi kelompok makanan dan minuman menunjukkan bahwa fluktuasi harga bahan pangan masih menjadi faktor dominan dalam pembentukan inflasi di Indonesia. Kondisi tersebut juga mengindikasikan bahwa perubahan harga kebutuhan pokok memiliki dampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga.

Cabai Merah Jadi Pemicu Utama Inflasi

Dari berbagai komoditas yang mengalami kenaikan harga, cabai merah tercatat sebagai penyumbang inflasi terbesar pada Mei 2026. Komoditas ini memberikan andil inflasi sebesar 0,08%.

Kenaikan harga cabai merah sering kali dipengaruhi oleh faktor cuaca, distribusi, serta pasokan dari sentra produksi. Ketika produksi menurun atau distribusi terganggu, harga cabai dapat meningkat secara signifikan dalam waktu singkat. Fenomena ini bukan hal baru karena cabai termasuk salah satu komoditas pangan yang memiliki tingkat volatilitas harga cukup tinggi di Indonesia.

Harga Minyak Goreng Masih Menjadi Sorotan

Selain cabai merah, minyak goreng juga menjadi salah satu penyumbang utama inflasi bulan Mei. BPS mencatat komoditas minyak goreng memberikan andil inflasi sebesar 0,04%. Kenaikan harga minyak goreng memiliki dampak luas karena produk ini digunakan hampir oleh seluruh rumah tangga dan pelaku usaha kuliner. Ketika harga minyak goreng naik, biaya pengolahan makanan ikut meningkat sehingga berpotensi memengaruhi harga berbagai produk makanan di pasaran.

Bawang Merah dan Tomat Ikut Dorong Inflasi

Selain cabai merah dan minyak goreng, bawang merah juga memberikan kontribusi terhadap inflasi dengan andil sebesar 0,04%. Sementara itu, tomat menyumbang inflasi sebesar 0,03%. Kedua komoditas hortikultura tersebut sering mengalami fluktuasi harga yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca, hasil panen, dan distribusi antarwilayah. Jika produksi berkurang akibat cuaca ekstrem atau gangguan distribusi, harga di tingkat konsumen biasanya akan mengalami kenaikan.

Beras Masih Berkontribusi terhadap Kenaikan Harga

Sebagai bahan pangan utama masyarakat Indonesia, beras juga tercatat memberikan andil inflasi sebesar 0,02%. Meskipun kontribusinya tidak sebesar cabai merah atau minyak goreng, perubahan harga beras tetap menjadi perhatian karena hampir seluruh rumah tangga di Indonesia mengonsumsi komoditas ini setiap hari.

Kenaikan harga beras dapat memberikan dampak langsung terhadap tingkat pengeluaran masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.

Dampak Inflasi terhadap Masyarakat

Inflasi yang terjadi pada Mei 2026 berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Ketika harga kebutuhan pokok terus meningkat, masyarakat harus mengalokasikan pengeluaran yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah biasanya menjadi pihak yang paling rentan terhadap kenaikan harga pangan karena sebagian besar pendapatan mereka digunakan untuk kebutuhan konsumsi.

Namun demikian, tingkat inflasi nasional yang masih berada di kisaran 3,08% secara tahunan menunjukkan bahwa kondisi harga secara umum masih relatif terkendali dibandingkan berbagai periode inflasi tinggi yang pernah terjadi sebelumnya.

Stabilitas Pasokan Jadi Kunci Pengendalian Inflasi

Para ekonom menilai stabilitas pasokan pangan menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga inflasi tetap terkendali. Pemerintah bersama berbagai instansi terkait perlu memastikan distribusi bahan pangan berjalan lancar, terutama menjelang periode-periode dengan permintaan tinggi seperti hari besar keagamaan atau musim liburan.

Selain itu, peningkatan produktivitas sektor pertanian dan penguatan rantai pasok juga dinilai penting untuk mengurangi gejolak harga komoditas pangan yang sering menjadi pemicu inflasi.

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Mei 2026 sebesar 0,28% secara bulanan, 3,08% secara tahunan, dan 1,35% secara tahun kalender. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,12%. Adapun komoditas yang paling dominan mendorong kenaikan harga adalah cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan beras.

Data ini menunjukkan bahwa stabilitas harga pangan masih menjadi faktor penting dalam menjaga inflasi nasional tetap terkendali. Oleh karena itu, penguatan pasokan dan distribusi bahan pangan menjadi langkah strategis untuk menjaga daya beli masyarakat serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Abdul Latif

Menemukan inspirasi dari berbagai hal dan mengubahnya menjadi informasi yang bernilai. Berkomitmen untuk terus belajar, menulis, dan membagikan hal-hal positif setiap harinya.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال