Israel Habisi Pemimpin Militer Hizbullah Dengan Serangan Udara
Israel Habisi Pemimpin Militer Hizbullah dengan Serangan Udara
Ringkasan Kejadian
Pada 23 November 2025, Haret Hreik, sebuah kawasan pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai basis kuat Hizbullah, menjadi lokasi serangan udara oleh Israel Defense Forces (IDF) yang menewaskan komandan militer senior Hizbullah, Haytham Ali Tabatabai. Peristiwa ini memicu kekhawatiran eskalasi konflik antara Israel dan Hizbullah.
Latar Belakang Konflik
Hubungan Israel dan Hizbullah
Sejak beberapa tahun terakhir, hubungan antara Israel dan Hizbullah terus tegang. Hizbullah, yang didukung oleh Iran, telah terlibat dalam berbagai operasi militer melawan Israel dan kadang bergerak lintas perbatasan. Israel menanggapinya dengan operasi militer, termasuk serangan udara tertarget. Konflik ini makin meningkat terutama sejak tahun 2023–2024 di wilayah utara Israel dan selatan Lebanon.
Siapa Haytham Ali Tabatabai?
Haytham Ali Tabatabai adalah seorang tokoh militer senior dalam jaringan Hizbullah. Menurut laporan, ia telah lama bergabung dengan organisasi tersebut dan menjabat berbagai posisi penting, termasuk dalam struktur komando militer.
Ia menjadi target karena dianggap sebagai aktor utama dalam mengorganisasi dan memimpin unit-militer Hizbullah yang siap menghadapi Israel.
Kronologi Serangan
Detik-detik Serangan
Serangan udara terjadi di daerah Haret Hreik, pinggiran selatan Beirut, kawasan yang diketahui sebagai basis Hizbullah. Sejumlah rudal diluncurkan ke sebuah bangunan multifungsi yang menampung komandan serta anggota organisasi militer Hizbullah.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan setidaknya lima orang tewas dan 28 orang terluka pada serangan tersebut.
Pernyataan Resmi dan Menolak Tanggung Jawab
IDF dalam pernyataannya menyebut bahwa sasaran adalah unit-unit Hizbullah yang sedang dipersiapkan untuk pertarungan dengan Israel, dan bahwa tindakan ini penting untuk mencegah reorganisasi militer Hizbullah.
Sementara itu, Hizbullah mengonfirmasi kematian Tabatabai dan menyebutnya sebagai “komandan besar jihad” yang akan menjadi pemimpin besar dalam perjuangan mereka.
Implikasi dan Dampak
Terhadap Hizbullah
Kematian seorang komandan senior dapat mengguncang struktur militer Hizbullah. Kehilangan ini bisa menyebabkan reorganisasi atau reaksi balasan dari pihak Hizbullah.
Namun, pihak Hizbullah menyatakan bahwa mereka akan terus berjuang dan tidak akan mundur. Pernyataan ini menunjukkan potensi konflik yang lebih besar jika organisasi tersebut memilih membalas.
Terhadap Israel dan Lebanon
Bagi Israel, operasi ini menunjukkan bahwa mereka bersedia untuk menargetkan sasaran di luar zona perang tradisional — bahkan di ibu kota Lebanon — demi mengamankan keamanan nasional mereka.
Bagi Lebanon, terutama pemerintahannya, ini adalah tantangan dalam menjaga kedaulatan: banyak pihak menganggap tindakan Israel sebagai pelanggaran terhadap wilayah Lebanon. Presiden Lebanon memanggil komunitas internasional untuk intervensi.
Potensi Eskalasi Konflik
Serangan begitu jelas di kawasan perkotaan dan basis Hizbullah yang jauh dari front perang tradisional meningkatkan risiko eskalasi. Jika Hizbullah memilih membalas, maka bisa terjadi konflik yang lebih besar antara Lebanon dan Israel, atau bahkan melibatkan pihak ketiga seperti Iran.
Analisis Strategis
Mengapa Israel Melakukan Serangan Ini Sekarang?
Beberapa alasan strategis meliputi:
-
Mencegah Hizbullah membangun kembali kekuatan militer mereka pasca-gencatan senjata sebelumnya.
-
Mengirim pesan tegas bahwa Israel akan segera memukul sasaran militer lawannya, tidak peduli lokasi atau status.
-
Memprediksi bahwa jika tidak segera dihadapi, Hizbullah akan menjadi ancaman yang lebih besar di masa depan untuk keamanan Israel.
Faktor Geopolitik yang Terlibat
Konflik ini tidak hanya antara Israel dan Hizbullah saja—ada elemen regional yang penting:
-
Dukungan Iran kepada Hizbullah secara finansial dan militer.
-
Peran komunitas internasional, terutama AS, dalam mengelola gencatan senjata dan memonitor situasi.
-
Posisi Lebanon sebagai medan konflik yang memiliki banyak aktor: Pemerintah Lebanon, Hizbullah, dan warga sipil yang terjebak di dalamnya.
Tantangan dan Prospek ke Depan
Tantangan Kunci
-
Bagaimana Hizbullah akan merespons? Apakah mereka akan melancarkan serangan balasan besar atau memilih strategi yang lebih terbatas?
-
Bagaimana Lebanon akan menjaga stabilitas internalnya saat wilayahnya menjadi medan konflik eksternal?
-
Bagaimana dunia internasional — termasuk PBB dan negara-negara besar — akan bereaksi terhadap eskalasi ini?
Prospek ke Depan
-
Jika Hizbullah memilih tidak membalas secara besar-besaran, maka Israel mungkin akan memperkuat operasi serupa di masa depan untuk menekan kelompok militan atau proxy.
-
Jika terjadi konflik besar, maka kita bisa melihat perluasan perang ke selatan Lebanon dan utara Israel, serta potensi kerusakan yang signifikan di wilayah sipil.
-
Negosiasi diplomatik mungkin menjadi semakin sulit karena kepercayaan antar pihak yang semakin berkurang.
Kesimpulan
Serangan udara Israel yang menewaskan Haytham Ali Tabatabai menandai titik penting dalam konflik panjang antara Israel dan Hizbullah. Kejadian ini menggambarkan betapa seriusnya Israel dalam menargetkan struktur komando militer lawan dan menegaskan kembali bahwa mereka tidak akan berdiri diam. Sementara itu, di pihak Hizbullah dan Lebanon, ini membuka pukulan strategis sekaligus tantangan besar dalam merespons tanpa memperluas konflik secara luas.
Bagi pembaca di Indonesia dan secara global, penting untuk memahami bahwa konflik ini bukan hanya peristiwa militer saja — ia memiliki implikasi luas terhadap stabilitas regional, keamanan sipil, serta dinamika geopolitik di Timur Tengah.
.webp)