Anggota DPR Ahmad Sahroni Diduga Pergi ke Singapura
Anggota DPR Ahmad Sahroni Diduga Pergi ke Singapura untuk Menghindari Pendemo
Latar Belakang Kericuhan dan Aksi Demonstrasi
Pada akhir Agustus 2025, Indonesia dilanda gelombang demonstrasi besar yang dimulai pada 25 Agustus 2025, dipicu oleh kebijakan tunjangan anggota DPR yang dinilai berlebihan, serta sejumlah pernyataan kontroversial dari anggota parlemen. Demonstrasi semakin memanas setelah seorang driver ojek online, Affan Kurniawan, tewas tertindas kendaraan taktis Brimob pada 28 Agustus 2025. Tiga hari kemudian, politisi Partai NasDem, Ahmad Sahroni, menjadi sorotan publik.
Kontroversi Pernyataan Ahmad Sahroni dan Imbasnya
Sebelum kabar keberangkatannya mencuat, Ahmad Sahroni sempat mencetuskan pernyataan pedas, menyebut mereka yang menyerukan pembubaran DPR sebagai “orang tolol sedunia”. Partai NasDem kemudian mencopotnya dari jabatan Wakil Ketua Komisi III DPR RI dan memindahkannya ke Komisi I. Pencopotan yang dianggap sebagai rotasi ini menuai sorotan luas.
Dugaan Kabur ke Singapura: Kronologi dan Bukti
Awal Mula Kabar
Pada 29–30 Agustus 2025, tersebar foto yang digadang-gadang menunjukan Ahmad Sahroni berada di ruang tunggu bandara, duduk santai mengenakan jaket cokelat dan topi hitam, bermain ponsel. Konten kreator dan influencer seperti Ferry Irwandi turut mengunggah foto tersebut, menyatakan bahwa Sahroni "kabur ke Singapura''.
Status dan Tanggapan Publik
Beberapa akun di X (Twitter) menyatakan bahwa Sahroni sudah meninggalkan Indonesia sejak 27 Agustus 2025: “Sahroni udah gak di Indo dari 2 hari lalu,” demikian isi salah satu unggahan. Warga bahkan menyatakan tidak mengetahui keberadaan terakhirnya setelah kabar Singapura.
Respons dari Publik dan Tokoh Politik
Kecaman Publik dan Media Sosial
Aksi Sahroni tersebut menuai kritik keras. Ferry Irwandi menudingnya pengecut:
“Kalau ini benar, maka orang ini sama pengecut dan rendahnya dengan katak bhizzer… Hadapi kausalitas yang anda sudah lahirkan, bukan kabur.”
Masyarakat menganggap kepergiannya ke Singapura sebagai bentuk penghindaran terhadap tanggung jawab dan tuntutan publik, terutama saat demo tengah memanas.
Sikap Partai NasDem
Partai NasDem menjelaskan bahwa perpindahan jabatan Sahroni merupakan “rotasi biasa” dan bukan akibat pernyataannya (INP | Indonesian National Police). Namun, publik tetap melihat adanya hubungan antara kontroversi ucapan dan pemindahan posisi tersebut.
Kesimpulan dan Implikasi Politik
Kasus Ahmad Sahroni memberi gambaran mencolok tentang bagaimana respons publik terhadap politisi yang dianggap tidak bertanggung jawab semakin tajam. Dugaan keberangkatannya ke Singapura untuk “menghindari pendemo” memperparah citra negatif di mata rakyat yang tengah marah atas pernyataan dan tindakan elit politik.
Pemerintah dan DPR perlu segera melakukan langkah-langkah nyata — bukan hanya pengalihan wacana — agar kepercayaan publik dapat sedikit dipulihkan, khususnya dengan menahan diri dari pernyataan provokatif dan menunjukkan akuntabilitas nyata di tengah krisis politik seperti saat ini.
.webp)